Kiprah Uni Eropa Bagi Panggung Dunia
|
“Kami tidak membentuk koalisi negara-negara, kami justru mempersatukan rakyat”
VIVAnews - Itulah untaian kata-kata bersejarah dari Jean Monnet , salah satu pendiri Uni Eropa (UE). Dari kalimat Monet itulah terungkap apa yang telah dicapai oleh UE dalam beberapa dekade terakhir. Dua puluh tahun yang lalu tirai besi memisahkan manusia dan meninggalkan bekas di seluruh Eropa.
Pada 7 Mei lalu kami merayakan lima tahun perluasan keanggotaan UE, yang kini menjadi lebih besar dan kembali dipersatukan. Itu merupakan wujud sebuah kesatuan dari para warga negara, yang atas keinginan mereka sendiri, telah bersama-sama memutuskan untuk membangun masa depan bersama, berdasarkan supremasi hukum, satu pasar internal, dan penghapusan batas-batas internal secara bertahap.
Namun, UE ingin membantu negara-negara lain untuk mencapai apa yang telah kami lakukan untuk negara kami sendiri – mendukung dan memantapkan demokrasi bagi jutaan orang. Kekuatan tranformasional Uni Eropa adalah kekuatan besar untuk perubahan demokratis dan ekonomi di negara-negara tetangga, tidak hanya di negara-negara calon anggota, tetapi juga di kawasan Eropa Timur dan Mediterania dengan didukung oleh Kebijakan Lingkungan Eropa (the European Neighbourhood Policy).
Pada tahun 2008, kami mendirikan Uni Mediterania dengan para mitra Mediterania kami dan menyepakati enam proyek utama dengan mereka untuk memberikan manfaat bagi para warga negara di wilayah tersebut. Serupa dengan hal tersebut, kami telah mengusulkan Kemitraan Timur baru yang ambisius dengan tujuan untuk membawa pesan solidaritas yang abadi, dengan dukungan tambahan yang nyata untuk reformasi yang demokratis dan berorientasi pasar serta konsolidasi integritas kenegaraan dan kewilayahan para mitra.
Perubahan-perubahan tersebut membawa peluang-peluang baru, tetapi juga tanggung jawab baru untuk para mitra kami dan untuk Eropa yang bersatu. Dalam konflik di Georgia pada pertengahan tahun lalu dan dalam sengketa perebutan gas antara Rusia dan Ukraina, sebuah Uni Eropa yang bersatu dan bertindak dengan cepat telah menunjukkan bahwa kesatuan tersebut dapat menjadi jaminan kestabilan, kebebasan, dan keamanan dalam dunia globalisasi kita.
Kami menjawab tantangan ini dengan berupaya membangun konsensus global untuk mengatasi permasalahan yang kami semua alami. Hal ini secara khusus berlaku dalam menemukan jawaban global terhadap krisis keuangan dan ekonomi global yang terjadi saat ini. Uni Eropa tidak saja menjadi salah satu kekuatan pendorong dalam G20 yang menghimpun semua pemain global dan regional, akan tetapi kami juga menyediakan cetak biru untuk tanggapan global yang menghasilkan stimulus global yang paling ambisius untuk mendorong ekonomi global dan membentuk kembali dunia globalisasi kita.
Krisis tersebut juga merupakan peluang karena membuka pikiran pada kebutuhan akan adanya solusi global. Oleh karena itu, kami setuju untuk bekerja dengan para mitra G20 kami untuk mencapai terobosan mengenai Doha, Perubahan Iklim, dan ketahanan energi, dan kami sedang memusatkan bantuan kami untuk negara-negara berkembang yang terkena dampak terburuk dari kejatuhan pendapatan ekspor.
Tahun 2009 bukan hanya tahun krisis. Tahun ini juga adalah sebuah momen yang unik dalam sejarah dunia dan peluang yang unik untuk bekerjasama menghadapi permasalahan global.
Eropa yang kuat harus memanfaatkan momentum ini dan memberikan kontribusi bukan hanya untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh krisis keuangan dan ekonomi global tetapi juga untuk mencapai sebuah perjanjian yang ambisius dan mengikat. Itulah tujuan kami selanjutnya dalam Konferensi Iklim di Kopenhagen pada akhir tahun ini.
Benita Ferrero-Waldner adalah Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Uni Eropa. Artikel ini dibuat dalam rangka Hari Eropa 2009 dan diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Kantor Perwakilan Komisi Eropa di Jakarta
• VIVAnew


